Belajar bahasa Mandarin: budaya, Pelajaran 10

Teks pelajaran ini menceritakan keseharian seorang mahasiswa asing di Universitas Peking (北京大学 Běijīng Dàxué). Sebuah kesempatan untuk melihat bagaimana sekolah bekerja di Tiongkok, gagasan tentang belajar yang menjadi landasannya, dan apa yang terjadi antara seorang guru dan murid-muridnya.


1. Kehidupan sekolah di Tiongkok

Sistem pendidikan Tiongkok terdiri atas tiga tahap besar: sekolah dasar (小学 xiǎoxué, enam tahun), sekolah menengah pertama (初中 chūzhōng, tiga tahun) dan sekolah menengah atas (高中 gāozhōng, tiga tahun). Strukturnya persis sama dengan yang Anda kenal di Indonesia: SD enam tahun, SMP tiga tahun, SMA tiga tahun. Bedanya terletak pada kewajibannya: di Tiongkok pendidikan wajib berlangsung sembilan tahun, dari SD sampai SMP, sedangkan Indonesia menerapkan wajib belajar 12 tahun.

Hari sekolah di sana panjang. Seorang murid Tiongkok sering kali sudah tiba di sekolah antara pukul 07.00 dan 07.30. Pelajaran (上课 shàngkè) dimulai sekitar pukul 08.00 dan berakhir (下课 xiàkè) sekitar pukul 16.30 atau 17.00. Di banyak sekolah masih ditambah jam belajar malam dengan pengawasan, kadang sampai pukul 21.00 di tingkat SMA.

Sebaliknya, istirahat tengah hari (中午 zhōngwǔ) justru panjang, sering kali dua jam. Para murid makan di kantin lalu tidur siang (午休 wǔxiū), sebuah kebiasaan yang sangat berakar di Tiongkok. Sebagian sekolah bahkan menyediakan ranjang lipat. Melihat satu kelas penuh tertidur di atas meja untuk pertama kalinya, orang bisa mengira telah terjadi sesuatu. Tidur siang tentu bukan hal asing bagi Anda, hanya saja di Indonesia tidur siang adalah urusan rumah, bukan agenda resmi sekolah.

Senam pagi bersama (早操 zǎocāo) adalah ritual di sebagian besar sekolah: seluruh murid berkumpul di lapangan untuk melakukan gerakan serentak, diiringi musik dari pengeras suara. Pemandangan ini pasti terasa akrab bagi Anda, karena senam pagi dan upacara bendera hari Senin adalah bagian dari hidup setiap murid di Indonesia.


2. Cara pandang Tiongkok terhadap belajar

Dalam teks, guru berkata kepada mahasiswa itu 今天要好好学习 jīntiān yào hǎohāo xuéxí "hari ini harus belajar dengan sungguh-sungguh", lalu 学中文,要多说,多写 xué zhōngwén, yào duō shuō, duō xiě "untuk belajar bahasa Mandarin, harus banyak berbicara dan banyak menulis". Dua kalimat yang merangkum satu cara pandang terhadap belajar.

Pendidikan Tiongkok bertumpu pada satu keyakinan dasar: bakat saja tidak cukup, usaha dan pengulanganlah yang membawa pada keberhasilan. Gagasan ini berasal dari pemikiran Konfusius. Konfusius (孔子 Kǒngzǐ) berpendapat bahwa setiap orang dapat menyempurnakan dirinya melalui belajar (学习 xuéxí), apa pun asal-usulnya.

Sebuah peribahasa merangkum semuanya:

Dari sinilah datang pekerjaan rumah yang banyak, hafalan yang dihargai, dan pengulangan yang dianggap bukan sebagai beban melainkan sebagai jalan wajar menuju kecakapan. Karakter "berlatih", yang kita pelajari dalam pelajaran ini, mengatakan hal yang persis sama: dalam bentuk kunonya, karakter ini menggambarkan seekor anak burung yang mengepakkan sayap untuk belajar terbang.

Model ini bisa terasa keras. Tetapi model ini juga menghasilkan murid yang tidak takut pada kerja yang panjang.


3. Hubungan antara guru dan murid

Guru (老师 lǎoshī) menempati kedudukan yang sangat dihormati. Kata ini tidak hanya menyebut sebuah profesi: ia juga gelar kehormatan, yang dipakai untuk seseorang yang dianggap sebagai pembimbing atau ahli di bidangnya. Kita sudah melihatnya sejak Pelajaran 3: guru dipanggil dengan nama keluarganya diikuti oleh 老师, misalnya 李老师 Lǐ lǎoshī.

Penghormatan ini berakar jauh ke belakang. Tradisi Konfusius menempatkan guru sangat tinggi, hampir sederajat dengan ayah, seperti kata sebuah pepatah yang terkenal:

Dalam praktiknya, suasana kelas menjadi sangat berbeda dari suasana kelas di dunia Barat. Para murid berdiri ketika guru masuk. Mereka mendengarkan tanpa memotong pembicaraan. Membantah guru secara terbuka akan dianggap tidak sopan, meskipun generasi muda mulai sedikit menggoyahkan semua itu. Di titik ini Indonesia justru jauh lebih dekat dengan Tiongkok daripada dengan dunia Barat: murid Indonesia pun berdiri untuk memberi salam kepada Bapak atau Ibu Guru, dan bersalim dengan menempelkan punggung tangan guru ke dahi.

Sebaliknya, guru tidak membatasi diri pada penyampaian pengetahuan: ia merasa bertanggung jawab atas perilaku murid-muridnya. Cara pandang ini juga Anda kenali, karena di Indonesia guru pun dipandang sebagai orang tua kedua di sekolah. Dalam teks, teguran guru kepada mahasiswa itu atas ketidakhadirannya kemarin (老师说我昨天没有来上课 lǎoshī shuō wǒ zuótiān méiyǒu lái shàngkè) karena itu terasa wajar. Ia bertindak seperti orang tua yang menegur anaknya.


4. Ketimpangan pendidikan antardaerah

Tiongkok sangat luas, dan kondisi belajar berbeda jauh dari satu tempat ke tempat lain. Di kota-kota besar, Beijing (北京 Běijīng), Shanghai (上海 Shànghǎi), Guangzhou (广州 Guǎngzhōu), sekolah-sekolah dilengkapi dengan baik, gurunya terlatih, dan sumber belajar digital tersedia.

Di daerah pedesaan di bagian barat dan tengah negeri, keadaannya sama sekali lain. Sekolah yang jauh, sarana yang sederhana, guru yang lebih sedikit. Sebagian anak berjalan kaki beberapa kilometer setiap pagi untuk pergi ke sekolah (上学 shàngxué).

Pemerintah menjalankan berbagai kebijakan untuk memperkecil jarak itu: pembebasan biaya pendidikan wajib dan investasi di sekolah-sekolah pedesaan. Jaraknya tetap ada, dan hal itu dibicarakan secara terbuka dalam masyarakat Tiongkok. Kesenjangan semacam ini tentu Anda kenali: jarak antara sekolah di Jawa dan kota-kota besar dengan sekolah di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) adalah persoalan yang sama. Ini pengingat yang baik: berbicara tentang "sekolah Tiongkok" dalam bentuk tunggal tidak banyak artinya.