Belajar bahasa Mandarin: budaya, Pelajaran 5

Dialog Pelajaran 5 membahas kewarganegaraan dan bahasa. Ini kesempatan untuk memahami bagaimana orang Tionghoa menyebut negerinya, bagaimana nama negara dibentuk dalam bahasa Mandarin, dan untuk mengenal penggunaan bentuk sopan nín.


1. Berbagai kata untuk menyebut Tiongkok

Dalam bahasa Indonesia pun ada beberapa kata untuk menyebut negeri ini (Tiongkok, Tionghoa, dan sebutan lama yang kini dihindari), dan pilihan kata itu tidak pernah netral. Dalam bahasa Mandarin juga ada beberapa, masing-masing dengan nuansanya sendiri:

Ada juga:

  • 中华 Zhōnghuá: "kemegahan tengah". Istilah yang lebih sastrawi dan resmi, dipakai dalam nama resmi Republik Rakyat Tiongkok: 中华人民共和国 Zhōnghuá Rénmín Gònghéguó.
  • huá: sering dipakai untuk menyebut orang Tionghoa perantauan (华人 huárén) atau budaya Tionghoa pada umumnya. Dari karakter inilah berasal sebutan Tionghoa dalam bahasa Indonesia, yang sejak Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2014 menjadi sebutan resmi dan santun bagi warga keturunan, sedangkan negaranya disebut Tiongkok.

Terakhir, kata yang lazim untuk "negara" dalam bahasa Mandarin adalah 国家 guójiā. Kata ini terdiri dari guó (negara, kenegaraan) dan jiā (keluarga, rumah tangga). Jadi "negara" secara harfiah berarti "negara-keluarga". Ini bukan kebetulan: dalam budaya Tionghoa, negara dipandang sebagai perluasan keluarga. Sebagaimana orang setia dan berbakti kepada keluarganya, begitu pula kepada negaranya.

Ikatan perasaan antara bangsa dan keluarga inilah yang menjelaskan kebanggaan dan kelekatan yang dirasakan banyak orang Tionghoa terhadap negerinya. Ini juga menjelaskan sebuah pertanyaan yang sangat sering didengar orang asing di Tiongkok:

Pertanyaan ini, yang diajukan dengan campuran rasa ingin tahu dan kebanggaan, sangat lazim. Bagi orang Barat pertanyaan itu terasa aneh: sulit membayangkan seseorang bertanya kepada turis Tiongkok di Paris: "Apakah Anda menyukai Prancis?" Bagi pembelajar Indonesia justru sebaliknya: pertanyaan "Apakah Anda suka Indonesia?" biasa sekali diajukan kepada tamu asing, dengan maksud dan nada yang persis sama. Di Tiongkok pun begitu: Anda diterima ke dalam "keluarga besar" dan mereka berharap Anda betah.


2. Berbagai nama untuk bahasa Mandarin

Bahasa Mandarin sendiri punya beberapa nama, dan perbedaannya bukan sekadar soal kosakata: nama-nama itu mencerminkan sejarah kebahasaan Tiongkok:

Istilah ini punya makna sejarah yang khusus. Selama ribuan tahun, Tiongkok adalah negeri dengan keragaman bahasa yang besar: penduduk daerah yang berbeda berbicara (dan masih berbicara) bahasa lisan yang tidak saling dipahami (Kanton, Wu, Min, Hakka, dan lain-lain). Namun semuanya berbagi satu bahasa tulis bersama: yaitu 文言 wényán, atau "bahasa Mandarin klasik".

Bahasa 文言 adalah bahasa yang murni tertulis, dipakai dalam pemerintahan, sastra, filsafat, dan surat-menyurat resmi. Seorang terpelajar dari Kanton dan seorang terpelajar dari Beijing tidak saling mengerti secara lisan, tetapi dapat berkomunikasi tanpa kesulitan lewat tulisan berkat 文言. Bahasa tulis bersama inilah yang menjaga kesatuan budaya Tiongkok selama berabad-abad. Hal ini selalu berguna untuk diingat: di Eropa keragaman bahasa berujung pada pemisahan menjadi bahasa-bahasa nasional, sedangkan di Tiongkok kesatuan justru bertahan berkat tulisan.

Istilah 中文 karena itu merujuk pada kenyataan ini: bahasa seluruh Tiongkok, bahasa yang mengatasi perbedaan lisan antardaerah melalui tulisan. Kini, 中文 secara umum menunjuk bahasa Mandarin secara keseluruhan (tulis dan lisan).

Ada pula:

  • 普通话 Pǔtōnghuà: "bahasa bersama", yaitu bahasa Mandarin baku. Inilah bahasa resmi yang diajarkan di sekolah dan dipakai di media. Bahasa ini digalakkan pada abad ke-20 untuk menyatukan komunikasi lisan di seluruh negeri.
  • 汉字 Hànzì: "aksara orang Han", yaitu karakter Mandarin itu sendiri.

3. Bagaimana nama negara dibentuk dalam bahasa Mandarin?

Nama negara dalam bahasa Mandarin adalah transkripsi bunyi semata. Caranya begini: dipilih karakter Mandarin yang bunyinya mendekati nama asli negara itu, lalu transkripsi tersebut dipendekkan (sering kali hanya karakter pertama yang disisakan), dan ditambah guó (negara).

Perhatikan, tidak semua nama negara mengikuti pola ini. Jepang disebut 日本 Rìběn ("asal matahari"), yang merupakan terjemahan makna, bukan transkripsi bunyi. Spanyol disebut 西班牙 Xībānyá (transkripsi bunyi lengkap, tanpa pemendekan dengan ).

Untuk menyatakan kewarganegaraan, cukup ditambahkan rén (orang) sesudah nama negara:
中国人 orang Tionghoa, 法国人 orang Prancis, 美国人 orang Amerika.


4. Penggunaan nín

Dalam dialog, Bai Xue memakai nín untuk menyapa Guru Li: 您是中国人吗?: "Apakah Anda orang Tionghoa?"

adalah bentuk hormat dari (kamu). Bentuk ini dipakai untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara, terutama:

  • kepada orang yang lebih tua;
  • kepada atasan (guru, majikan, dan sebagainya);
  • dalam situasi resmi (pertemuan resmi, urusan dagang, pelayanan);
  • kepada orang yang belum dikenal, sebagai bentuk kesopanan.

Karakter terdiri dari (kamu) dengan (hati) di bawahnya. Jadi orang menyapa "kamu" dengan hati, sebuah gambaran indah tentang rasa hormat dalam bahasa Mandarin. Pembelajar Indonesia mudah mengenali hal ini: perbedaan 您/你 sejajar dengan Anda/kamu, dan seperti dalam bahasa Indonesia, menyapa guru atau orang yang lebih tua dengan bentuk yang keliru langsung terasa kurang sopan.